Dari ke lima belas kawanku, 11
diantarany adalah perempuan. Mereka ialah diyan, diyah, winda, melly, nilna,
amil, ang, anik, nisak. Sebagai seorang perempuan hal ini cukup berat kami
alami, tapi untuk sebuah pendidikan ini tak boleh membuat kami lantas putus
asa.
Kemarin sahabatku diyan berkirim
pesan melalui Wa ia bercerita “ nia, bagaimana kabarmu? Aku banyak masalah.
Sakit. Siakad tidak bisa dibuka. Tambah sekolah mau ada acara DN, hehehheee aku
ingin berteriak sekeras mungin.. tapi taklaaah nia kita kan seterong, pilihan ini menunjukkan
kita hebat bisa sampai sini nia. Menyangati keadaan hehehe”, begitulah kiranya
ia menyemangati dirinya dan diriku.
Lantas hal itu ku tanggapi “benar
diii, cepet sembuh ya beeb”, aku yang notabene ingin banyak diam karena sudah
penat tak ingin banyak menanggapi, apalagi kalau aku tambah mengeluh kasian
juga kawanku itu. hahahhaahhaahhaaha…………..peace!
Gambaran sedikit itu cukup
mewakili keadaan kami disini kan, ini bukanlah apa atau bagaimana. Tapi ini
adalah pelajaran untuk kita semua. Bahwa penyesalan tidak pernah ada gunanya,
melakukan yang terbaik merupakan pilihan tepat. Perempuan memang diciptakan
dari tulung rusuk kaum laki-laki bukan berarti perempuan lemah. Banyak keadaan
yang menguatkan kita. Kita memang bukanlah kartini apalagi dewi sartika. Tapi
kami berusaha sekuat tenaga hanya untuk Indonesia. Sekarang!
Indonesia bagaimana kabarmu hari
ini? Bagaimana generasi penerus negeri saat ini? Kami memang sedang buta tanah
air, itu bukan berarti kami lantas lupa dan selesai. Usaha kami disini
sesungguhnya adalah bentuk dedikasi untuk negeri. Bagaimana kami setiap hari
dipanggil sebagai kakak Indonesia? Bagaimana kami disini dikenal pandai?
Bagaimana kami disini dikira tau segala macam seluk beluk Indonesia? Tidak ada
yang mudah untuk sebuah pengabdian. Itulah kesimpulan yang paling tepat.
Studi. Edukasi bagi kami adalah
yang terpenting. Pulang harus membawa ilmu sebanyak-banyaknya kembali membangun
negeri. Kami akan tetap berdiri gagah sebagai Indonesia. Salah satu teman saya
pernah berkata “ ini mah namanya menguntungkan pihak sini dan tidak
menguntungkan bagian kita” , dengan tangkapan sebisanya kujawab “iya”, tapi
dalam hati aku berkata “ini bukanlah bisnis, janji sebagai bentuk pengabdian
masyarakat, tapi………………….(tebak sendiri)” bukannya aku munafik atau apa, itu
hanyalah bentuk menghindari keteganggan. Dalam keadaan tertekan banyak orang
akan mengalami stress yang tidak disadari, mungkin temanku sedang mengalami hal
itu. singkat pikirku.
Thailand, itulah tempat belajar kami.
Kami dipisah satu sama lain untuk disebar ke sekolah-sekolah tempat kami
bertugas. Sebagai seorang gadis berada diluar negeri kali pertama tentunya
was-was bercampur gundah gulana tapi mau bagaimana lagi. Sendiri, tak ada
kawan, sanak saudara , keluarga hanya guru, kawan sekolah, murid dunia kami
seharinya di habitat baru, yang saking barunya duniaku sempat terbalik
sepertinya. Beda 180 derajat. Bayangkan saja dari mereka tidak ada yang tidak
memakai hijab besar hamper semua memakai hijab besar. Berjubah, bahkan ada yang
memakai cadar sedangkan dunia sebelumnya berhijad ala Indonesia simple dan
seadanya. Menjadi wanita seutuhnya but just fisikly. Tentang inner beauty aku
tak pernah bisa melihatnya. Mohon maaf.
Berusaha sekuat tenaga untuk
tetap berdiri adalah motto hidup kami disini. Kali ini aku sengaja hanya
berbicara tentang kawanku perempuan, hanya perempuan. Aku bercerita tentang
kekuatan temanku yang perempuan. Itu bukan berarti aku ingin berada diatas
laki-laki. Aku hanya ingin meneriakkan kepada perempuan-perempuan lain di
Indonesia, jangan hanya keluar negeri menjadi TKW. Jangan mau menjadi buta
huruf, jangan mau anak-anak kalian tak pandai, putus sekolah bahkan sampai
menjual diri. Aku tau banyak kemiskinan menjalar di Indonesia, banyak perempuan
Indonesia menikah muda, banyak dari kalian memilih berhenti sekolah mengganti
dengan kerja. Aku tau itu penting, bukan hendak berkhotbah tapi bacalah hadits
Muhammad bahwa surge dibawah telapak kaki ibu, lihatlah betapa yesus kristus
dilahirkan dari seorang bunda. Bahwa Dewi Sri symbol panen raya dalah
perempuan. Perempuan itu unik. Mereka
kuat. Tengok aku dan kawan-kawanku jika kau tak bisa melihat kelebih atas untuk
brsemangat memotivasi hidupmu. Sekolah kami berstatus STAIN Kediri yang hamper
jadi IAIN yang akan mati. Nasib, ya nasib siapa yang tau. Di negeri orang kami
ketar ketir tentang sekolah. Sedangkan berita tanah air, sekolah kami rusuh
huru hara datang. Ambisi menjadi IAIN untuk world class university mau tidak
mau memaksa sekolah kami untuk mendirikan fakultas baru, tapi yang kami tau
bangunan sekolah kami tidak mencukupi untuk mahasiswa 2500 target IAIN ajaran
baru. Sekilas berita itu mungkin menurut sebagian orang tidak penting. Namun,
bagi kami adalah kebanggaan. Setidaknya
sekolah kami berusaha memenuhi tida pilar pendidikan, penelitian, pengabdian.
Kebanggaan kami tetap STAIN Kediri, ambisi kami tetap wanita independent
Indonesia, seruan kami tetap bahwa semua wanita adalah guru, guru untuk
generasi penerus bangsa. Tidak mungkin kami menghianati status kami sebagai
wii, inilah kami tanpa tedeng aling-aling. Jika diluar sana ada malala, ada
Diana, ada blueeye maka disini ada kami. Indonesia di hati. Kami bukan Jawa
kami bukan Sulawesi kami bukan papua, kami tak pernah memilih pesisir, hutan,
tanah, tau air karena kami INDONESIA TANAH AIRKU. Jempol dinamakan ibu jari itu
berarti siapa yang menghargai perempuan jempolan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar